A. Sejarah
Hidup Al-Asy’ari
Nama
lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin
Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari.
Datuknya, Abu Musa Al-Asy’ari merupakan salah satu shahabat terkemuka. Sejak
kecil Abul Hasan telah yatim. Kemudian ibunya menikah dengan seorang tokoh
Mu`tazilah bernama Abu `Ali Al Jubba`i. Beliau (Abul Hasan) seorang yang
cerdas, hafal Al Qur`an pada usia belasan tahun dan banyak pula belajar hadits.
Pada akhirnya beliau berjumpa dengan ulama salaf bernama al Barbahari (wafat
329 H). Inilah yang akhirnya merubah jalan hidupnya sampai beliau wafat pada
tahun 324 H atau 939 M dalam usia 64 tahun Menurut beberapa riwayat, Abu Hasan
Al-Asy’ari lahir di Bashrah (Irak) pada tahun 260 H / 875 M. Ketika berusia
lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324
H/935 M.
Inilah
Ulama besar dalam Ilmu Usuluddin, perumus dan pembela faham Ahlussunnah wal
Jama’ah, yaitu faham Nabi, sahabat-sahabat dan tabi’in yang banyak. Dalam furu’
syari’at beliau penganut yang kuat dari Madzhab Syafi’i. Beliau belajar fiqih
kepada Abu Ishaq al Marwadzi, demikian dikatakan oleh Ustadz Abu Bakar bin
Furak pengarang kitab Tabaqatul Mutakallimin, dan demikian juga dikatakan oleh
Ustadz Abu Ishaq al Arfaraini sebagai yang dinukilkan oleh Syeikh Abu Muhammad
al Junaidi dalam kitab Syarah Risalah. Abu Hasan Al- Asy’ari adalah seorang
Ulama Besar, ikutan ratusan juta umat Islam dari dulu sampai sekarang, karena beliau
yang menjadi Imam kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai lawan dari kaum
Mu’tazilah, kaum Syi’ah, kau’m Mujassimah, dan lain-lain firqah yang sesat.
Walaupun beliau seorang Imam Besar dalam usuluddin, tetapi dalam furu’ syari’at
beliau menganut dan mempertahankan Madzhab Syafi’i Rahimahullah .
Menurut Ibnu Asakir, ayah
Al-Asy’ari adalah seorang yang berfaham Ahlussunnah dan merupakan ahli hadits.
Ia wafat ketika Al-Asy’ari masih kecil. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada
shahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari.
Sepeninggal Isma’il bin Ishaq, ibunda Ali bin Isma’il menikah dengan
Al-Jubba’i, seorang Mu’tazilah terkemuka, ayah kandung Abu Hasyim Al-Jubba’i.
Al-Jubba’i mendidik Ali bin Isma’il menjadi tokoh Mu’tazilah. Pada usia 40
tahun, Abul Hasan Al-Asy’ari bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW pada malam
ke-10, ke-20, dan ke-30 bulan Ramadhan. Dalam tiga mimpinya itu, beliau
diperingatkan Rasulullah agar meninggalkan faham Mu’tazilah dan membela faham
yang telah diriwayatkan dari beliau.
Konsep Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang berkembang hingga saat ini banyak berpijak kepada konsep yang disusun oleh Imam Al-Asy’ari atau pun Imam Al-Maturidi. Walau ada beberapa perbedaan, namun konsep mereka sangat mirip.
Konsep Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang berkembang hingga saat ini banyak berpijak kepada konsep yang disusun oleh Imam Al-Asy’ari atau pun Imam Al-Maturidi. Walau ada beberapa perbedaan, namun konsep mereka sangat mirip.
B. Adapun
formulasi pemikiran Al-Asy’ari, secara esensial
Yaitu:
menampilkan sebuah upaya sintesis antara formulasi ortodoks ekstrim di satu
sisi dan mu’tazilah di lain sisi. Maksudnya, dari segi etosnya, pergerakan
tersebut memiliki semangat ortodoks. Sedangkan aktualitas formulasinya jelas
menampakkan sifat reaktif terhadap Mu’tazilah, suatu reaksi yang tak dapat
dihindarinya. Corak pemikiran yang sintesis ini, mungkin dipengaruhi pemikiran
Ibnu Kullab (Tokoh sunni yang wafat pada 854 M).
·
Tuhan
dan Sifat-sifatnya.
Abul
Hasan Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Di satu sisi ia
berhadapan dengan kelompok mujassimah dan musyabbihah yang berpendapat bahwa
Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan
sifat-sifat itu harus dipahami menurut arti harfiahnya. Di lain sisi, beliau
berhadapan dengan Mu’tazilah yang menolak konsep bahwa Allah mempunyai sifat,
dan berpendapat bahwa mendengar, kuasa, mengetahui, dan sebagainya bukanlah
sifat, tetapi Substansi-Nya, sehingga sifat-sifat yang disebutkan dalam
Al-Qur’an dan Hadits itu harus dijelaskan secara alegoris.
Menghadapi
dua kelompok tersebut, Al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki
sifat-sifat itu (berbeda dengan Mu’tazilah) namun tidak boleh diartikan secara
harfiah melainkan secara ta’wil (berbeda dengan mujassimah dan musyabbihah).
Selanjutnya, Al-Asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik, sehingga
tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
·
Akal
dan Wahyu
Walaupun
Al-Asy’ari dan Mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, mereka berbeda
dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari aqal
dan wahyu. Al-Asy’ari mengutamakan wahyu, sementara Mu’tazilah mengutamakan
aqal . Dalam menentukan baik dan buruknyapun terjadi perbedaan pendapat di
antara mereka. Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan
pada wahyu, sedangkan Mu’tazilah mendasarkannya pada aqal.
·
Keadilan
Pada
dasarnya Al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Namun
Al-Asy’ari tidak setuju bahwa Allah harus berbuat adil, sehingga Dia harus
menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik.
Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun terhadap makhluq, karena Dia
adalah Penguasa Muthlaq.
·
Kedudukan
Orang Berdosa
Al-Asy’ari
menolak ajaran posisi menengah yang dianut Mu’tazilah. Iman merupakan lawan
kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu dari keduanya. Jika tidak
mu`min, maka ia kafir1. Mu`min yang berbuat dosa besar adalah mu`min yang
fasiq, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa, kecuali oleh kafir haqiqi.
Dan mazhab Abu Hasan Al-Asy’ari adalah Ahlu Sunnah Waljama’ah.
C. Karya-karya
Al-Asy’ari
Ia meninggalkan
karangan-karangan, kurang lebih berjumlah 90 buah dalam berbagai lapangan. Di
antara tulisan-tulisan beliau adalah: al-Ibanah an Ushuli Diyanah, Maqalatul
Islamiyyin, Risalah Ila Ahli Tsaghr, al-Luma’ fi Raddi ala Ahlil Bida’,
al-Mujaz, al-Umad fi Ru’yah, Fushul fi Raddi alal Mulhidin, Khalqul A’mal,
Kitabush Shifat, Kitabur Ruyah bil Abshar, al-Khash wal ‘Am, Raddu Alal
Mujassimah, Idhahul Burhan, asy-Syarh wa Tafshil, an-Naqdhu alal Jubai,
an-naqdhu alal Balkhi, Jumlatu Maqalatil Mulhidin, Raddu ala lbni Ruwandi,
al-Qami’ fi Raddi alal Khalidi, Adabul Jadal, Jawabul Khurasaniyyah, Jawabus
Sirafiyyin, Jawabul Jurjaniyyin, Masail Mantsurah Baghdadiyyah, al- Funun fi
Raddi alal Mulhidin, Nawadir fi Daqaiqil Kalam, Kasyful Asrar wa Hatkul Atsar,
Tafsirul Qur’an al-Mukhtazin, dan yang lainnya .
Karya-karyanya Al-Asy’ari Yang
Terkenal ada tiga yaitu:
a.
Maqalat
Al-Islamiyyin
b.
Al-Ibanah
'an Ushulid Diniyah
c.
Al-Lum
KESIMPULAN
Kesimpulan
dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Abu
Hasan Al-Asy’ari lahir di di Bashrah (Irak) pada tahun 260 H / 875 M
2.
Abu
Hasan Al-Asy’ari mempunyai 90 karya yang di tulis dirinya sendiri, dan hasil
karyanya yang paling terkenal ada tiga macam yaitu: Maqalat Al-Islamiyyin,
Al-Ibanah 'an Ushulid Diniyah dan Al-Lum.
3.
Abu
Hasan Al-Asy’ari adalah ulama’ yang merumuskan dan membela faham Ahli Sunnah
Waljama’ah.
0 Komentar